Lima tahun setelah peluncuran proyek Chromebook bantuan tahun 2020, banyak sekolah kini dihadapkan dengan pilihan pelik: alat pendidikan yang seharusnya menfasilitasi pembelajaran justru membebani institusi. Chromebook yang semula direncanakan untuk menunjang aktivitas belajar mengajar kini terbengkalai, seiring berbagai permasalahan teknis dan operasional yang mendera. Akibatnya, sekolah-sekolah kembali mengandalkan laptop berbasis Windows yang lebih usang, namun lebih bisa diandalkan dalam pemeliharaannya.
Peninggalan Chromebook yang Bermasalah
Pada awalnya, distribusi Chromebook secara massal dianggap sebagai solusi inovatif untuk mengatasi kebutuhan teknologi belajar jarak jauh selama pandemi. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Banyak Chromebook yang mengalami masalah kinerja, seperti baterai yang cepat habis dan perangkat yang mengalami kerusakan fisik. Keadaan ini diperparah oleh keterbatasan anggaran pengelolaan teknologi di sekolah.
Kendala Pemeliharaan dan Biaya
Salah satu isu utama adalah keterbatasan sekolah dalam menangani pemeliharaan perangkat keras ini. Perawatan dan perbaikan Chromebook yang membutuhkan biaya besar sering kali tidak diimbangi dengan anggaran teknologi yang memadai. Sebagian besar sekolah tidak memiliki teknisi khusus untuk menangani kompleksitas perawatan Chromebook, menghasilkan perangkat yang rusak dibiarkan begitu saja, menumpuk di gudang tanpa ada usaha perbaikan lanjutan.
Pengaruh Terhadap Pembelajaran Siswa
Keputusan untuk kembali menggunakan laptop berbasis Windows diambil sebagai solusi sementara untuk mengatasi kegagalan fungsi Chromebook. Meskipun performa laptop ini tidak sebaik perangkat yang lebih baru, mereka terbukti lebih tahan lama dan familiar bagi sebagian besar operator teknologi sekolah. Dengan laptop yang lebih bisa diandalkan, setidaknya kegiatan belajar siswa dapat terus berlanjut sembari sekolah mencari solusi jangka panjang.
Tantangan Mendatang dan Pelajaran yang Dipetik
Tantangan yang dihadapi sekolah saat ini memaksa institusi untuk berpikir strategis tentang pengadaan teknologi di masa depan. Satu pelajaran penting yang dapat dipetik adalah perlunya analisis yang mendalam sebelum melakukan investasi teknologi dalam skala besar. Ini termasuk mempertimbangkan pemeliharaan perangkat jangka panjang, kemudahan perbaikan, serta kesinambungan pembaruan perangkat lunak.
Strategi Ke Depan
Ke depan, sekolah perlu mengeksplorasi kemungkinan kemitraan dengan penyedia layanan teknologi untuk memastikan pemeliharaan perangkat lebih terjamin. Hubungan yang lebih erat antara sekolah dan penyedia dapat membuka jalan untuk mendapatkan harga layanan yang lebih bersaing dan dukungan teknis yang lebih cepat dan tanggap. Mengambil langkah ini dapat mencegah terulangnya kembali masalah yang sama pada investasi teknologi sekolah di masa depan.
Kesimpulan: Refleksi dan Solusi
Meski masalah ini menimbulkan tantangan bagi sekolah, ada kesempatan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih adaptif dan fleksibel. Dengan belajar dari kesalahan masa lalu, termasuk dalam hal pengelolaan dan perencanaan pengadaan teknologi, sekolah dapat lebih siap menghadapi kebutuhan teknologi di era digital saat ini. Komitmen terhadap pendidikan yang mengedepankan integrasi teknologi harus diimbangi dengan manajemen yang cermat, agar beban ini tidak menjadi penghalang belajar tetapi justru menjadi penunjang untuk masa depan pendidikan yang lebih baik.








